Berikut adalah Rangkuman dari sebuah artikel yang berjudul "Miskonsepsi Koding dan Kecerdasan Artifial" yang ditulisOleh: Moch. Abduh
Staf Ahli Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Bidang Teknologi Pendidikan


Miskopsepsi tentang Koding

Pertama, miskonsepsi terbesar adalah anggapan bahwa seseorang harus punya latar belakang matematika untuk bisa belajar, memahami, dan mengajarkan koding.

Faktanya, meski beberapa aspek pemrograman membutuhkan pemahaman matematika, banyak konsep koding yang lebih bersifat pemecahan masalah, serta pendekatan logika daripada kemampuan bermatematika.

Kedua, koding sangat sulit dan hanya bisa dipelajari serta dimanfaatkan oleh mereka yang memiliki latar belakang teknis dan akademis yang bagus.

Faktanya, siapa pun bisa belajar koding dengan metode tepat dan pelatihan cukup. Bahkan, saat ini tersedia banyak sumber pembelajaran yang membantu siapa saja yang memiliki keinginan masuk ke dunia dasar-dasar koding.

Ketiga, Koding hanya dibutuhkan oleh programmer profesional dan tidak relevan bagi profesi lain seperti analis data, ilmuwan, desainer, hingga guru.

Faktanya, banyak profesi non-teknis yang mendapatkan manfaat dari pemahaman dasar-dasar koding karena menunjang efisiensi dan otomatisasi pekerjaan mereka.

Begitu pula bagi murid, guru, dan tenaga kependidikan. Dalam Pengenalan Konsep Coding untuk Anak Menggunakan Game Edukasi Berbasis Metode Pembelajaran Berpikir Komputasi, Santoni A. Dkk (2020) menyatakan, pengembangan game edukasi yang dilakukan dirancang untuk memperkenalkan konsep koding kepada anak-anak menggunakan metode pembelajaran berpikir komputasi.

Keempat, koding selalu berarti menulis baris kode. Artinya orang yang mempelajarinya seakan hanya belajar bahasa koding selayaknya bahasa asing dan menulis baris-baris kode yang panjang dan kompleks.

Faktanya, banyak aspek pemrograman bisa bekerja melalui sintaks yang sangat ringkas serta no-code platform. Tersedia pula berbagai alat bantu dan framework penyusunan dan pengembangan koding.

Baca juga : Pembelajaran Coding : Membuat Aplikasi Berbantuan Artificial Intelligence (IA)


Miskopsepsi tentang Kecerdasan Artificial (KA)

Agen Cerdas
Begitu pula tentang KA. Masih banyak miskonsepsi yang berkembang di masyarakat mengenai teknologi itu.

Pertama, KA memiliki kesadaran dan pemikiran seperti halnya manusia.

Faktanya, KA adalah sebuah program yang menjalankan instruksi manusia secara otomatis, memproses data, dan membuat prediksi berdasar model matematika.

Jelas bahwa KA tidak memiliki perasaan, kesadaran, atau pemahaman intuitif seperti manusia. Meski KA dapat menghasilkan karya seni, musik, dan video, prosesnya sangat berbeda dengan kreativitas manusia. KA hanya mengolah dan mengombinasikan pola yang telah ada, sedangkan kreativitas manusia melibatkan intuisi, emosi, dan pengalaman pribadi.

Baca juga : Pembelajaran Coding : Contoh Soal

Peluang Baru
Kedua, miskonsepsi bahwa KA akan menggantikan semua pekerjaan manusia dan menyebabkan terjadinya pengangguran massal.

Faktanya, KA memang berpotensi menggantikan beberapa pekerjaan manual yang berbasis data. Namun, KA juga menciptakan peluang pekerjaan baru dalam pengembangan, pemeliharaan, serta pengawasan sistem KA. Teknologi itu lebih bersifat sebagai alat bantu yang meningkatkan produktivitas manusia. Bukan sebaliknya, menggantikan pekerjaan manusia secara total.

Ketiga, KA selalu memberikan hasil akurat dan objektif dan dianggap sebagai sistem yang tidak bias. Faktanya, KA hanya sebaik data yang digunakan untuk melatihnya. Joseph Teguh Santoso (2023) dalam bukunya Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence) menegaskan, pengumpulan, pelabelan, dan analisis data menjadi aspek penting dalam implementasi KA, dan jika data tersebut bias atau tidak akurat, KA juga akan menghasilkan keputusan yang bias.

Keempat, KA akan menguasai dunia dan akan menandai keberadaan umat manusia. Beberapa film fiksi memang menggambarkan KA sebagai ancaman eksistensi keberadaan umat manusia.

Faktanya, KA masih berada dalam kendali penuh dari manusia dan hanya bekerja dalam batasan dan limitasi yang ditentukan. Tantangan sebenarnya adalah bagaimana memastikan bahwa KA digunakan secara etis dan bertanggung jawab untuk menghindari penyalahgunaan teknologi bagi kehidupan manusia.

Miskonsepsi tentang koding dan KA sering kali berasal dari tafsir yang kurang tepat atau rasa cemas terhadap kemajuan pesat tersebut. Koding dan KA adalah teknologi yang sangat berguna dalam peningkatan kualitas pembelajaran jika digunakan secara tepat, proporsional, dan etis. KA dapat dimanfaatkan secara maksimal asalkan disertai kesadaran dan literasi teknologi yang baik, tanpa kekhawatiran yang berlebihan yang tidak berdasar.


Download Modul Koding dan Kecerdasan Artifisial di menu berikut