Seiring berjalannya waktu, terbentuklah generasi baru. Pernah mendengar istilah generasi Baby Boomers, X, Y, Z dan Alpha?
Klasifikasi Generasi
Istilah-istilah ini menggambarkan pengelompokan manusia berdasarkan generasi kelahirannya. Bicara tentang generasi, tentu mereka memiliki karakter yang berbeda karena dipengaruhi oleh berbagai faktor termasuk lingkungan di sekitar mereka sehingga membentuk kepribadian tersendiri. Seperti apa masing-masing karakteristik kelima generasi tersebut?
Meminjam istilah klasifikasi generasi yang dikemukakan Jon Stewart, dengan merujuk dari berbagai publikasi popular,
Penduduk yang lahir tahun 1946- 1964 mendapat sebutan Generasi Baby Boomers (masa angka kelahiran yang tinggi);
Penduduk yang lahir tahun 1965-1979 mendapat sebutan Generasi X;
Penduduk yang lahir tahun 1980- 1996 (kadang kala disebut tahun 2000) mendapat sebutan Generasi Millenial (Generasi Y);
Penduduk yang lahir tahun 1997 (kadang kala disebut tahun 2000) - sekarang mendapat sebutan Generasi Z.
Dilansir dari kumparan.com
Baby Boomers (1946-1964)
Lahir dan tumbuh di zaman yang belum modern dan minim lapangan pekerjaan saat itu, membuat masa muda generasi Baby Boomers memiliki sifat kompetitif. Dikutip dari thebalancecareers.com, generasi ini berorientasi pada pencapaian, berdedikasi, dan berfokus pada karir. Mereka pun sampai disebut generasi gila kerja, tidak suka dikritik, tetapi suka mengritik generasi muda karena kurangnya etika kerja dan komitmen terhadap tempat kerja. Meski begitu, di balik sifat mereka yang suka bekerja keras, mereka punya tujuan penting yakni membahagiakan keluarganya (terutama anak-anak). Para baby boomers punya karakter setia kepada keluarga dan rela bekerja keras asalkan keturunannya bisa mendapatkan pendidikan setinggi-tingginya. Tak heran mereka memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, mandiri, dan optimis dengan pencapaian yang mereka telah lakukan.
Generasi X (1965-1979)
https://nextleader.id/wp-content/uploads/2020/11/Atasan-gen-X-3.jpg
The latchkey kids - anak yang sering merasa sendirian akibat ditinggal orang tuanya bekerja - merupakan istilah yang kerap diberikan untuk para generasi X. Maklum, generasi yang lahir pada pertengahan tahun enam puluhan hingga awal delapan puluhan ini dibesarkan oleh orangtua (Baby Boomers) yang gila kerja.Kondisi tersebut membuat generasi X menjadi lebih mandiri dan mulai mencari alternatif selain pekerjaan formal yang menghabiskan banyak waktu. Melihat kedua orang tuanya banyak menghabiskan waktu untuk bekerja di luar rumah, membuat para generasi X mulai berpikir untuk berwirausaha atau bekerja di rumah.
Generasi Y (1980-1996)
Umumnya, generasi Y (milenial) menyukai hidup seimbang. Mereka pekerja keras tapi tetap mementingkan 'me time'. Generasi Y dikenal dapat diandalkan dalam hal kedisiplinan dan soal pemanfaatan teknologi (tech-savvy). Dengan kelebihan yang dimilikinya tersebut, generasi Y punya kepercayaan diri yang baik dan tetap menjunjung tinggi kritik dan saran dari orang lain. Keseimbangan gaya hidup dan pekerjaan generasi Y membuat mereka cenderung mencari pekerjaan yang dapat menunjang gaya hidupnya dan tetap bisa melakukan hobi yang mereka suka. Dikutip dari Forbes, generasi yang lebih dikenal sebagai milenial ini punya passion yang besar dan sangat kreatif untuk membuat passion mereka menjadi sumber penghidupan. Mereka suka bekerja, suka berpetualang dan penuh gairah untuk melakukan hobi yang menjadi bagian penting dan pertumbuhan dan perkembangan pribadi generasi ini.
Generasi Z (1997-2010)
Generasi ini merupakan peralihan dari generasi Y. Dengan perkembangan teknologi yang semakin berkembang di generasi ini, membuat mereka sangat bergantung pada teknologi, gadget, dan aktivitas di media sosial.
Bahkan mereka lebih memprioritaskan popularitas, jumlah followers dan like. Dilansir dari socialmediaweek.org, dalam hal konsumsi media sosial, generasi milenial menghabiskan rata-rata enam sampai tujuh jam per minggu di media sosial, sedangkan 44 persen dari Gen Z memeriksa media sosial mereka setidaknya setiap jam Ketergantungan teknologi khususnya sosial media membuat mereka suka dengan hasil instan dan cepat, cenderung keras kepala, dan selalu terburu-buru.
Meski begitu, generasi ini suka dengan tantangan baru namun haus akan pujian. Aktivitas sosial dan bergaul menjadi favorit mereka sehingga tak mereka rela mengeluarkan banyak uang untuk bersenang-senang.
Generasi Z juga memiliki sebutan sebagai generasi Mengajar Generasi Z 12 “post Millenial” (pasca Milenial), iGen (Generasi yang lahir di era internet), Zoomers, Gen Tech, Net Gen, Neo Digital Native. Ciri menonjol Generasi Z, menurut penelitian Fray dan Parker (2018) mereka lebih senang melanjutkan sekolah daripada masuk ke dunia kerja (www.pewsocialtrends.org/). Generasi Z sejak kecil sudah terbiasa memproses informasi dengan cepat akan tetapi juga mudah beralih perhatian ke informasi lain sehingga mereka cenderung kurang bisa fokus. Sebagai ilustrasi, aplikasi popular seperti Instagram, Tik Tok, dan WhatsAp dapat mengalir informasi dengan deras.
Meskipun kurang bisa fokus, Generasi Z memiliki kebiasaan “multi tasking” (dapat mengerjakan beberapa kegiatan secara bersamaan), misalnya sambil menulis di laptop sesekali membuka WhatsAp, video call, buka video. Kebiasaan hidup dengan internet juga membuat Generasi Z memiliki cara pandang yang lebih global.
Generasi Z juga lebih suka bekerja mandiri serta menyimpan informasi pribadi. (Kusumapradja, 2020. www.cosmopolitan.co.id/). Generasi Z Indonesia dibesarkan dalam keadaan rerata penghasilan keluarga yang lebih baik dibanding generasi Milenial ataupun Generasi X sebelumnya.
Di sisi lain, Generasi Z Indonesia dihadapkan pada tantangan global yang lebih menantang dan lebih dinamis. Misalnya, gelombang besar Massive Open Online Course (Kursus Daring Terbuka dan Masif) semakin hari semakin banyak menawarkan ribuan kursus Daring dari perguruan tinggi terkemuka di dunia. Berbagai platform seperti Open EdeX, Coursera, Udemi, Udacity telah menawarkan paket pelatihan gratis dan telah diakses dari mancanegara di dunia.
Tantangan Generasi Z Indonesia juga berasal dari perkembangan teknologi OER (Open Education Resources) atau Sumber Belajar Terbuka yaitu adanya gerakan masyarakat internasional yang mengembangkan sumber belajar dengan Hak Cipta terbuka seperti Creative Common. Dengan adanya gerakan OER ini maka Generazi Z dapat mengakses secara bebas ratusan juta sumber belajar bebas hak cipta yang bisa dibaca online dan banyak juga yang bisa diunduh secara gratis/bebas hak cipta; baik yang berupa e-book, e-jurnal, media audio, media audio visual, film, animasi, laboratorium maya, dan sumber belajar lainnya. Sekali lagi, tantangannya sama dengan MOOC, sebagian besar isi OER dalam bahasa Inggris.
Generasi Alpha (2011-Sekarang)
Lahir di zaman dengan teknologi yang berkembang pesat. Sejak dini mereka sudah familiar dengan gadget seperti smartphone atau laptop. Anak-anak Alpha akan tumbuh dengan gadget di tangan sampai-sampai tidak pernah bisa hidup tanpa smartphone.
Dilansir Business Insider, situasi ketergantungan teknologi pada generasi Alpha membuat generasi ini menjadi paling transformatif dibandingkan generasi-generasi sebelumnya. Namun di balik kelebihan anak generasi Alpha, mereka sangat membutuhkan peran dan kasih sayang orang tua. Butuh strategi khusus untuk mendidik anak yang terlahir pada generasi ini agar mereka tumbuh menjadi anak yang mahir dengan teknologi tapi tetap menghargai nilai-nilai kekeluargaan. Setiap generasi punya karakter yang berbeda dan punya cara sendiri untuk berekspresi.
Sumber : berbagai sumber, CNN
abi sujak, Mengajar Generasi Z -ebook
Video Cara membuat chart gauge menggunakan google chart pada IoT kontrol suhu (firebase data)